Joko siswa Sekolah Menengah Pertama Favorit kelas VII semester I tertunduk menyesal ketika dia memberikan hasil ujian matematika kepada ibunya. Sang ibu hanya bisa terkejut dan mengurut dada ketika melihat hasil yang didapat dari buah hatinya tersebut, ibu merasa heran kenapa Joko yang sangat menyukai matematika dan tidak pernah keluar dari Peringkat 5 besar di sekolah dasarnya, tiba-tiba mengalami penurunan drastis sejak melanjutkan pendidikannya tersebut.
Usut punya usut, ternyata sang anak mengalami depresi sejak masuk di lingkungan yang menuntut untuk selalu bersaing (sekolah Favorit gitu loh ^^). Ditambah dia merasa tidak dapat mengikuti penjelasan yang diberikan oleh guru matematikanya, dan dia harus juga mendalami pelajaran pelajaran baru yang belum pernah ada di Sekolah Dasar seperti Fisika, Geografi dan sebagainya. Lengkaplah sudah penderitaan dari Joko (kaya apa gitu yah penderitaan )
Akhirnya, sang ibu mencoba mengambil jalur yang biasa dipakai orangtua yang lain, ibu memasukkan Joko pada Bimbingan Belajar yang lumayan terkenal. Singkat cerita Joko kembali kepada jalan yang lurus dan benar sehingga dia dapat masuk ke dalam peringkat 10 besar di kelasnya.
Apa yang menarik dari kisah di atas? Ini adalah hal yang biasa terjadi di murid-murid sekolah, dan biasa dilakukan oleh orangtua di Indonesia. Sebenarnya hal aneh dan tidak masuk akal apabila kita perhatikan secara kritis. Apakah sekolah tidak dapat memberikan kebutuhan pendidikan bagi murid-muridnya sehingga dirasa kurang waktu 6-7 jam bahkan 8-9 jam (sekolah Full Day) untuk memberikan pengetahuan dan ilmu bagi para muridnya sehingga dibutuhkan tambahan waktu selama 2-4 jam untuk kembali “belajar . Yang terjadi adalah anak-anak mengalami kejenuhan bahka mulai melakukan berbagai penyimpangan yang tidak bisa dikontrol oleh sekolah dan keluarga, pergaulan bebas, tawuran, bolos sekolah dan berbagai hal yang apabila dilihat sebenarnya sudah mengarah kepada kriminalitas.
Ini adalah sebuah pembuktian bahwa Pendidikan Formal yang biasa kita sebut sekolah, sudah mengalami berbagai macam kemunduran. Bayangkan, sekolah yang memiliki waktu selama 6 Jam dalam sehari dan 6 Hari dalam seminggu dapat dikalahkan oleh Bimbingan Belajar yang hanya memiliki waktu 2-4 jam dalam sehari dan 2-4 hari dalam seminggu. Dapat diambil kesimpulan walaupun bimbel kalah dalam segi kuantitas, namun ternyata menang dari segi KUALITAS.
Atau kita lihat juga metode baru dari sekolah-sekolah sekarang, entah saya sebut apa tapi yang jelas seperti sebuah bisnis aja ketika sekolah juga mengadakan pelajaran tambahan seperti pengayaan or pendalaman materi,ketika jaman saya di penjara, atau apapun itu. Masih dapat masuk akal saya pribadi ketika pemberi tambahannya adalah orang atau person yang berbeda, tetapi ternyata gurunya pun adalah guru yang sama ketika mengajar di jam sekolah? Dikemanakan ilmu bapak/ibu guru ketika sedang mengajar jam sekolah sehingga harus memberikan tambahan dengan metode yang lebih dapat dipahami anak muridnya da tentu juga dengan waktu yang lebih singkat. Kenapa tidak digunakan saja metode tersebut ketika sedang dalam kelas, sehingga tidak perlu membuat orangtua murid untuk kembali memutar otak bagaimana cara memberikan sedikit uang saku tambahan bagi guru yang dengan “ikhlas meluangkan waktunya mengajar kembali anak muridnya atau kenapa tidak jam sekolah tersebut digantikan saja dengan jam pengayaan or pendalaman materi itu.
Ada apa dengan sekolah kita? Apakah sudah waktunya sekolah-sekolah di Indonesia diganti dengan bimbel-bimbel yang ada karena telah terbukti bahwa “sekolah di luar tersebut dapat memberikan kebutuhan pendidikan yang efektif dan efisien kepada warga belajarnya, sehingga sisa waktu yang ada dapat lebih digunakan anak untuk melakukan hal-hal postif yang lain tanpa ada beban dan sebagainya.
Wallahuâ„¢alam
Serang, 18042009, hasil dari sekolah di KRESMA PLUS dan Kantin Untirta.