Omong besar, tanpa ada perbuatan sama juga bohong. Seperti pepatah, “ Tak perlu karya kata tanpa karya nyata . Itulah yang membuat hatiku bergerak mencoba membuat sesuatu, berharap suatu hal akan berubah walaupun kemungkinan kecil.
Frase kata dan makna kiasan seolah menjadi falsafah hidup. Membangkitkan motivasiku untuk meniti karir yang masih kucari keberadaannya. Walaupun sulit dan merepotkan, harus tetap ku coba terlebih dahulu.
Kebanyakan orang merasa takut dan mudah menyerah, sehingga mencari jalan pintas yang terkadang menurutku salah. Dunia kerja sudah sulit, mengapa kau repot-repot untuk membuka peluang bagi orang lain, sementara hidupmu masih belum jelas? Suatu pemikiran yang cerdas penuh perhitungan namun tak mengikuti akidah dalam kaitan sosial.
Modernisasi dan kapitalisme membuat orang semakin menggila, membuat gerakan dan suatu pembaharuan yang memunculkan ide-ide segar nan gila. Merubah tatanan pemikiran yang masih dangkal, membuka wawasan global. Sebenarnya bagus, namun individualisme dan egoisme semakin meninggi, tak peduli berapa banyak orang susah, lingkungan, dan orang-orang yang kurang beruntung, mengakibatkan meningkatnya angka kriminalitas, liminalitas, marjinal, separatis dan kesenjangan sosial yang tercakup dalam pathologi sosial. Yang terpenting baginya adalah kekayaan material, tetapi tidak untuk hati dan sosial lingkungannya.
Pemerintah seolah berpihak pada orang-orang mewah, penuh singgasana, harta, benda dan raja-raja penguasa daratan. Kaum lemah sedikit demi sedikit diabaikan, ditekan dengan harga-harga pangan yang meningkat, memeras tenaganya menjadi buruh/kuli dengan upah yang minim dan sebagian lagi menjadi mesin pengunduh devisa.
Apakah kenyataan ini sama sekali tak menggugah hati, betapa banyak orang-orang yang tak berdaya mengungkapkan kekesalannya kepada Tuhan, “Mengapa aku dilahirkan dengan kenyataan pahit?
Sebagai orang yang lebih baik kehidupannya dari mereka, apakah kita hanya tinggal diam? Hanya berkomat-kamit menyalahkan pemerintah yang terus menimbun harta, tanpa pedulikan nasib rakyat-rakyatnya? Apa yang bisa kita lakukan sekarang, bukan hanya kata-kata saja. Kita berupaya agar kenyataan pahit itu berubah menjadi manis, dengan apa? Tentunya dengan perbuatan.
Ibarat ada orang lapar yang datang pada kita, ingin makan jangan kita kasih nasi. Tapi berikanlah pancing kepadanya untuk mencari makan. Artinya apabila ada orang susah bukan kita berikan uang, ia akan datang kembali meminta uang kepada kita, namun kita berikan dia pekerjaan yang dapat menghasilkan uang, yang nantinya upah tersebut dapat mencukupi kehidupannya sehari-hari dan dapat menjadi mandiri.
Bila saat sekarang ini pendidikan dan ekonomi menjadi salah satu faktor masalah dalam masyarakat. Kita selaku mahasiswa PLS yang menggarap pengabdian masyarakat mulai bergerak dengan suka rela, tanpa mengharapkan imbalan ataupun penghargaan dari orang lain. Menggelar semangat juang dengan cara melakukan pendekatan kepada masyarakat, membangun kepercayaan dan kebersamaan kepada masyarakat, menjadi bagian dari mereka, mengidentifikasi suatu permasalahan apa yang terjadi, menganalisis kebutuhan dan potensi yang ada, memfasilitasi mereka untuk berusaha, dan menggerakkan hati mereka agar tidak senantiasa bergantung pada orang lain, percaya bahwa kita bisa mandiri, mendapatkan hasil yang halal, Tuhan itu tidak pernah tidur, dan mencoba membuat pemikiran mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan masyarakat lainnya.
Hal itu memang tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh waktu dan penyesuaian diri. Hambatan dan rintangan pasti ada, namun kita janganlah berputus asa. Kita sebagai agen of change senantiasa harus berinovasi mengatasi permasalahan ini. Semangat pantang mundur dan kepalkan tangan ke angkasa bahwa kita harus bisa!!
| Nama | Eko Haryanto |
| echo.hyto@gmail.com | |
| Asal Insatansi/Univ | Universitas Negeri Medan |
telegram @tanpatinta