Nama Itu . . .
Aku tak tahu begini jadinya Saat semua kepastian – kepastian Di tukar dengan kesalahan – kesalahan Yang dapat membuat pisau itu semakin tajam Mengarah padaku, Perdebatan – perdebatan apa pun Meruncing menuju ke arah lelah… Jangan paksakan genggamanmu Bila itu nyatanya menyakitkan Menuju ke arah yang salah, Kau harus percaya aku tetap disini Bersama dinginnya malam Panasnya siang, basahnya air hujan, Keringnya tanah kemarau, Dengan nafas tak beraturan Aku berlari dengan kaki yang tak Menyentuh tanah, Menatap dengan mata tertutup Berbicara dalam diam Bergerak se gerak dengan arah angin, Kemana pun arah itu membawa Dalam heningnya penyesalan Yang tersisa dalam doa Hanya nama . . . Iyah… Benar…. Hanya sebuah nama . . . Nama yang ingin untuk Di akui Di hargai Di mengerti Di gunakan Di ikut sertakan Dan hingga entah di…. Di…. Di apakan lagi ? Saat ku sebut nama itu dalam doa Hati kecil ini merintih “ izinkan aku untuk kembali ke masa, Bukan masa lalu itu, tapi masa, Di masa depan itu, yang telah terlanjur aku gores Oleh sakitnya hati ini karna sudah Sekian banyaknya waktu yang ku lewati, Namun ku tetap asyik dengan uji coba, uji cobaku. Untuk bertahan hidup, Bersanding dengan nama itu… Berada di barisan terdepan Yang bila salah melangkah nyawalah taruhannya, Sudah berlumur darah tubuhku, Memang benar harus ada masalah untuk Menyubat darah ku, Perlu apa lagi !!!!!!! Bagaimana lagi !!!!!! Aku setia pada dan karna nama itu, Iyah nama itu yang kini terlebelkan di sampul hidupku Tubuhku bersandar dengan doa doa yang entah Terdengar atau terabaikan, Aku percaya semua ada waktunya, Yang indah tepat pada momentnya Aku masih ada, dan akan tetap disini […]






