Kelompok sosial menurut pengertian sosiologis adalah kumpulan individu-individu yang mempunyai hubungan dan saling berinte-raksi satu sama lain, dimana didalamnya terdapat ikatan perasaan yang relatif sama. Sedangkan dalam pengertian umum kelompok merupakan golongan, kelas, lapisan atau kumpulan manusia yang dibatasi oleh ciri, kondisi dan kesamaan kepentingan tertentu. Soedjono Dirdjosisworo (1985) menyebutnya sebagai kesatuan-kesatuan yang menunjukkan satu kumpulan manusia (a human agregate), yaitu sejumlah orang yang mempunyai kepentingan yang sama. Pengertian semacam ini tidak menjadi masalah jika digunakan untuk percakapan sehari-hari, sepanjang masing-masing pihak dapat memahami pokok percakapan itu. Akan tetapi pengertian terakhir ini bisa menimbulkan kesulitan jika percakapan dimaksudkan menelaah seluk beluk kelompok manusia itu sendiri secara lebih luas.
Dalam mempelajari kelompok manusia secara sosiologis tentu banyak variasi yang perlu diperhitungkan, seperti kuantitas keanggotaan, aktivitas anggota kelompok, hubungan-hubungan antar individu, faktor pengikat para anggotanya, kepentingan-kepentingan, saling ketergantungan, dan ukuran-ukuran perilaku atau normanorma yang sama-sama dipatuhi.
Mayor Polak (1979) mendefenisikan kelompok sebagai “Group” atau kelompok”, yaitu sejumlah orang yang ada antar hubungan satu sama lain dan antar hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur. Pendapat tersebut pada dasarnya ingin menjelaskan bahwa betapa penting faktor hubungan atau interaksi dalam suatu kelompok sosial, karena sekumpulan orang tanpa ikatan hubungan satu sama lain belum dapat disebut sebagai kelompok. Begitu juga dengan terbentuknya suatu kelompok sangat tergantung pada perkembangan jalinan hubungan antara individuindividu sebagai anggotanya. Dalam dunia sosiologi kelompok merupakan organisasi dari dua atau lebih individu yang bersatu atas dasar ikatan-ikatan ketergantungan masing-masing dengan standar ukuran perilaku yang relatif sama.
Tipe kelompok yang termasuk dalam kajian kelompok sosial murni, misalnya Keluarga, orang Indonesia, kelompok-kelompok etnis, kelompok profesi, dan lain-lain perkumpulan yang pada hakekatnya mengandung hubungan sosial primer, dimana didalamnya terdapat ketergantungan atas kepentingan bersama. Ciri yang paling penting di sini adalah sifat hubungannya yang intim dan terdapat ikatan yang disadari sebagai satu perasaan pemilikan bersama yang kuat.
PEMBENTUKAN KELOMPOK
Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk sebuah kelompok.
Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing-masing anggota (siapa yang menjadi ketua atau anggota). Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan perbedaan antara individu satu dengan lainnya sehingga timbul perpecahan (konflik). Perpecahan yang terjadi bisanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan bersama. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.
KERJASAMA
Sargent dalam Santosa (1992:29) menyatakan bahwa kerjasama merupakan usaha terkoordinasi di antara anggota kelompok atau masyarakat yang diarahkan untuk mencapai tujuan bersama. Lebih lanjut Santosa (1992: 29-30) menyatakan bahwa kerjasama adalah suatu bentuk interaksi sosial di mana tujuan anggota kelompok yang satu berkaitan erat dengan tujuan anggota kelompok yang lain atau tujuan kelompok secara keseluruhan sehingga seseorang individu hanya dapat mencapai tujuan bila individu lain juga mencapai tujuan.
Bila tipe interaksi ini berkembang di antara anggota tani maka kelompok dapat diduga bahwa para petani akan saling membantu, saling mendukung, saling memberi/menerima, saling bergantung, dan saling memotivasi satu sama lain untuk maju. Inovasi yang ada dengan mudah menyebar di antara mereka, karena para petani mempunyai kepentingan yang sama yaitu ingin maju, sehingga mereka akan berupaya untuk saling berkoordinasi dan saling berkomunikasi dalam rangka lebih mengenal, memahami dan menguasai inovasi yang diperkenalkan pada mereka. Dalam setiap atau kelompok masyarakat selalu saja ada orang yang lebih dahulu memiliki informasi teknologi baru dan lebih maju (perintis, pelopor) (Arintadisastra, 1997: 118). Dengan pola interaksi kerjasama yang berkembang dalam masyarakat, mereka ini secara sadar atau tidak dapat memajukan anggota lainnya. Pada umumnya, tipe interaksi ini yang paling banyak dijumpai pada masyarakat petani di Indonesia, karena masyarakat petani Indonesia secara kultural dan historis memiliki jiwa gotong royong dan kerjasama.
Sikap kerjasama dalam kelompok merupakan perpaduan dari sikap individu yang terbentuk berdasarkan komitmen bersama yang diwujudkan berupa satu sikap dan perilaku kelompok sesuai dengan karakteristik dari pada sikap dan perilaku individu. Sikap dan perilaku kelompok ini akan baik dan mendukung jalannya adalah :
Sikap kerjasama dalam kelompok merupakan hal yang penting bagi para wirausaha untuk menyelesaikan tugas secara efisien dan efektif. Karakteristik-karakteristik pribadi dari anggota kelompok yang baik meliputi:
Agar mekanisme kerja kelompok menjadi lancar dan terarah, masing-masing kelompok hendaknya mempunyai pengurus kelompok yang terdiri atas: ketua kelompok, sekretaris kelompok dan kalau perlu bendahara kelompok. Dalam mengembangkan sikap kerjasama kelompok yang kreatif dan inovatif seorang pengusaha perlu mengkaji secara komprehensif tujuan kerjasama kelompok yang dibentuk agar sesuai dengan visi dan misi pengusaha. Dengan demikian, kelompok harus mempunyai satu visi untuk memberikan fokus dan pengarahan pada energi kreatif. Contoh, kelompok penilaian (evaluation team) di tingkat pengusaha harus memiliki visi yang jelas, dianut bersama, dirundingkan, bisa dicapai dan melibatkan personil yang profesional dalam bidangnya. Kelompok tersebut harus dapat memberikan inspirasi bagi anggota kelompok untuk menyumbangkan hasil pemikirannya bagi kepentingan pengusaha.
Bekerja sama dalam satu tim memang membutuhkan kekompakan dan kerja sama yang solid. Tapi meski demikian, anda juga dituntut untuk mandiri di dalam kelompok. Artinya, walau kerja tim, anda tidak boleh hanya mengandalkan bantuan dan pertolongan rekan satu tim. Anda tetap harus memberikan kontribusi pribadi bagi kepentingan kelompok. Menjadi mandiri dalam kelompok kerja sama, dapat diupayakan dengan berbagai cara:
Walau masing-masing anggota kelompok merupakan pribadi yang mandiri dalam kelompok kerja sama, iklim saling menjatuhkan harus dibuang jauh-jauh. Dan, anda juga perlu menyadari bahwa antara anda dan rekan lain adalah mitra sejajar yang memiliki tanggung jawab bersama di dalam satu tim. Tentu tujuan kelompok akan tercapai dengan baik jika komunikasi antar individu berlangsung lancar.
Disusun Oleh
Lukita, Gasti,mayhani,adhin,hendy DKK
PLS-UM
#TemanImadiklus volunteer imadiklus