MK Antropologi Pendidikan

Sejatinya wilayah daratan di Kepulauan Nias merupakan daerah terumbu karang, dihutani oleh rawa, hutan bakau atau mangrove dan pohon kelapa. Hutan mangrove hingga April 2007 semakin menipis jumlahnya, dimana daerah yang masih memilikinya hanya pada beberapa tempat tertentu di utara Pulau Nias seperti Teluk Belukar (Gbr. 2)   dan daerah Pulau-pulau Batu. Usaha untuk penanaman kembali sudah mulai terlihat baik secara pribadi maupun organisasi, contohnya bisa dilihat pada beberapa ruas jalan dari Teluk Dalam menuju Pantai Lagundri. Gbr. 2 : Hutan Bakau/Mangrove di Teluk Belukar “ Foto: NTbanua (Sept. 2006)

Sekalipun daratan di Pulau Nias sekitar 50% merupakan daerah berbukit-bukit sempit dan pegunungan terjal (Duha & Telaumbanua 2004, hal. 9), hampir keseluruhannya berada di bawah ketinggian 600 m dari permukaan laut (Gbr. 5).

Gbr. 5: Peta Permukaan Tanah Pulau Nias “ Sumber: UNOSAT 2005

Pada gambar terlihat bahwa daerah dengan warna abu-abu merupakan daratan tertinggi yang mencapai ketinggian antara 500 m hingga 700 m dari permukaan laut Struktur permukaan tanah berbongkah-bongkah dan membentuk banyak sekali aliran sungai atau sumber mata air. Kondisi ini yang menyebabkan ketidak mudahan untuk membangun infrastruktur jalan yang lurus, lebar, dan kokoh. Kondisi ini juga yang memicu pemusatan aktifitas niaga hanya di daerah pinggir pantai saja.

Perairan bebas yang mengelilingi kepulauan ini menakdirkan pula bahwa jumlah dan ragam hasil laut sangat tinggi, namun lalu lintas perairan dari dan ke pulau ini beresiko tinggi. Wilayah yang sejajar dengan pulau Sumatera ini terkesan tersendiri di tengah laut dan tidak diapit oleh pulau lain dalam jarak dekat, sehingga lalu lintas laut terkesan tidak terlindungi terutama dari ancaman angin kencang di lautan bebas Samudera Hindia.

  1. Iklim

Daerah ini merupakan daerah bercurah hujan tinggi, seperti halnya daerah khatulistiwa, memiliki suhu udara panas sekitar 25?C-30?C. Hujan angin sering melanda daerah ini rata-rata 20-an hari per bulan dan disertai kelembaban yang tinggi hingga 95% (Duha & Telaumbanua 2004, hal. 9). Panas yang terjadi pun kini sangat terik, berbeda sangat jauh di tahun 1970 ketika rumah masih berbahan kayu dan beratap palem dan mulai memanas dalam tahun 1980 ketika rumah beton mulai memenuhi kota dan desa. Sebelum tahun 1980 lahan hijau masih banyak terlihat di pinggir pantai. Pada Maret-April 2007 temperatur udara pernah mencapai sekitar 370C-390C, dimana dari pengamatan pada Juni 2005, Agt.-Sept. 2006 dan Maret-April 2007 terlihat bahwa kisaran perubahan peningkatan temperatur terjadi cukup tinggi sejak gempa Maret 2005. Perubahan cuaca secara mendadak dalam sehari semakin jelas terlihat dalam kurun waktu tersebut di atas dan tidak lagi mengikuti alur musim seperti tahun-tahun yang telah lalu.

  1. D.           Kebudayaan Nias

Suku Nias adalah sekelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, masyarakat Nias menamakan diri mereka “Ono Niha” (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai “Tan Niha” (Tan = tanah).

Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut Fondrak yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik (batu besar) dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman khususnya di Teluk Dalam (Nias Selatan), Onolimbu (Nias Barat)dan di tempat-tempat lain sampai sekarang.

Menurut Mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora`a” yang terletak di sebuah tempat yang bernama “Tetehli Ana’a”. Menurut mitos tersebut di atas dikatakan bahwa kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehli Ana’a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

  1. E.    Pendidikan

Sistem sekolah Indonesia sangat luas dan bervariasi. Dengan lebih dari 50 juta siswa dan 2,6 juta guru di lebih dari 250.000 sekolah, sistem ini merupakan sistem pendidikan terbesar ketiga di wilayah Asia dan bahkan terbesar keempat di dunia (berada di belakang China, India dan Amerika Serikat). Dua menteri bertanggung jawab untuk mengelola sistem pendidikan, dengan 84% sekolah berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan sisa 16% berada di bawah Departemen Agama (Depag). Sekolah swasta pun memainkan peran penting. Walaupun hanya 7% sekolah dasar merupakan sekolah swasta, porsi ini meningkat menjadi 56% di tingkat menengah pertama dan 67% di tingkat menengah umum.

Undang-Undang mengenai Pendidikan Nasional (No. 20/2003) dan Amandemen Konstitusi III menekankan bahwa semua warga Indonesia berhak mendapatkan pendidikan; bahwa Pemerintah wajib untuk mendanai pendidikan dasar tanpa biaya dan bahwa Pemerintah menerima mandat untuk mengalokasikan 20% dari pengeluarannya untuk pendidikan. Undang-Undang Guru (No.14/2005) menyebutkan perubahan-perubahan penting atas syarat dan ketentuan pemberian kerja untuk sertifikasi guru, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Pages: 1 2 3 4

#TemanImadiklus volunteer imadiklus

You might also like